Teriakan membahana memenuhi udara. Ribuan penonton dari berbagai planet bersatu dalam hiruk-pikuk antusiasme yang mendidih. Arena utama, yang berada di pusat kubah raksasa, kini berubah menjadi lautan cahaya dan suara. Tribun melingkar menjulang tinggi, dipenuhi makhluk dari ras-ras berbeda, manusia, mutan, cyborg, hingga bentuk-bentuk kehidupan asing lainnya. Bendera-bendera simbol kekuasaan masing-masing faksi melambai di udara, dan layar-layar raksasa di atas arena menayangkan siaran langsung dari berbagai sudut pandang.

Langit buatan di atas kubah memancarkan warna merah gelap, menciptakan suasana mencekam seperti senja sebelum perang besar.

Tiba-tiba, lampu sorot menyala. Satu sosok melayang turun dari langit kubah, berdiri di tengah panggung arena dengan mantel panjang berwarna hitam mengilat. Suaranya menggelegar, diperkuat oleh puluhan pengeras suara canggih yang tertanam di dinding arena.

"Selamat datang, para penonton dari tujuh sistem bintang. Selamat datang di Arena Kematian, tempat di mana darah, kehormatan, dan takdir bertarung dalam satu lingkaran"

Sorak-sorai menggelegar seperti ledakan.

"Malam ini, kita tidak akan menyaksikan pertunjukan biasa. Tidak, tidak… malam ini adalah pesta. Ini adalah ujian hidup dan mati untuk mereka yang telah lulus dari seleksi Imperium Verta"

Layar menampilkan lima sosok yang berdiri di sisi panggung saling berlawanan, satu per satu disorot.

"Yang pertama… Darven, ahli pengendali medan gravitasi, pria dari sistem Kalvaron yang pernah menghancurkan benteng bersenjata hanya dengan tekanan telapak tangannya"

Darven melangkah maju, wajahnya dingin, mata bersinar tajam.

"Yang kedua… Lorrik, sang manusia baja, mutan setengah mesin dengan kekuatan tak terbendung"  
Sosok besar Lorrik mengangkat tinjunya, menimbulkan riak suara logam.

"Ketiga… Kazzeth, wanita berkulit duri, petarung dari ras luar angkasa Gaeruun"  
Kazzeth menggeram pelan, duri-duri di punggungnya bergerak seolah hidup.

"Keempat…"

Lampu sorot bergeser, jatuh pada sosok misterius yang berdiri tak bergerak di ujung arena. Tubuhnya tertutup jubah panjang yang kusut dan gelap, dan wajahnya tersembunyi di balik topeng logam hitam yang tampak seperti hasil karya, berbentuk tengkorak dengan guratan-guratan menghiasi tampilannya.

"Khorr. Peserta misterius yang tidak ingin memperkenalkan darimana asalnya. Tapi seperti anda semua ketahui, asal dan sejarah tidaklah penting, tetapi kekuatanlah yang berbicara."

Khorr tidak memberi reaksi, hanya berdiri menatap ke depan seolah tidak peduli dengan tanggapan para penontonnya.

"Dan terakhir…"

Suasana mendadak berubah hening.

"Leena. Terlihat seperti wanita lemah, tetapi jangan salah... mampu melewati tes berat di Imperium Verta menandakan wanita ini bukanlah sosok yang bisa di remehkan."

Sosok gadis cantik melangkah maju perlahan menggunakan pakaian sederhana dengan pedang di pinggangnya. Rambut hitam panjangnya berayun lembut, ekspresinya datar dan dingin, seperti tak tersentuh hiruk pikuk sekitar.

Penonton langsung berbisik riuh, sebagian tertawa meremehkan, sebagian lagi menatap penuh minat.

"Apakah tidak salah? Gadis kecil seperti itu ikut bertarung?" suara dari para penonton terdengar.

"Darimana asalnya? Kenapa dia ikut pertandingan ini? Tapi wajahnya... Lihat! Terlalu cantik untuk dibantai di tempat seperti ini"  Penonton yang lain ikut bersuara.

"Kalau dia mati nanti, berikan kepadaku mayatnya. Akan kubekukan dan simpan sebagai koleksi". Dari arah yang lain penonton lainnya tidak bisa menyembunyikan keinginannya.

"Berjuanglah cantik. Aku akan mengajukan lima juta krun sebagai hadiah agar kamu bisa jadi istriku kalau menang nanti."  Disisi lain, penonton lainnya ikut menimpali.

"Menang? Dia? Kau mimpi"  balas orang di sebelahnya.

"Aku tak peduli menang atau kalah. Budak sepertinya layak dikalungkan rantai emas dan disimpan di istana pribadiku"

Sorakan dan komentar menjijikkan bercampur dalam gelombang sorak sorai, tapi Leena tetap tenang. Ia hanya menatap ke depan, seolah suara mereka tak pernah ada.

"Baiklah" suara pembawa acara kembali menggema. "Lima petarung, satu arena, satu hukum. Bertahanlah hidup"

Seluruh arena terdiam sesaat.

"Pertarungan akan berlangsung bebas, tanpa aturan. Satu-satunya cara keluar adalah menjadi yang terakhir berdiri"

Lampu di atas arena mendadak padam. Kegelapan menyelimuti.

"Dan bagi yang berhasil bertahan…"  
Satu sorot lampu turun ke tengah arena, menerangi layar hologram yang muncul perlahan, menampilkan tiga baris kalimat mengerikan

Hadiah utama.
Pertama, lima juta krun.  
Kedua, kontrak petarung elit Circuit.  
Ketiga, barang spesial dari koleksi pribadi pemilik arena.

Satu gambar muncul perlahan. Seorang gadis kecil dengan rambut hitam pendek dan mata tajam seperti rubah kecil, duduk di dalam sel kristal transparan.

"Isha…" bisik Lynx yang berdiri jauh di kegelapan tribun atas, matanya memicing tajam.

Suara pembawa acara menyentak kembali.

"Pertarungan dimulai dalam… sepuluh… sembilan… delapan…"

Cahaya-cahaya mulai menyala dari lantai arena, membentuk lingkaran energi.

"Tujuh… enam…"

Kelima petarung mulai bergerak ke posisi masing-masing.

"Lima… empat…"

Leena menarik napas perlahan. Cahaya di matanya berubah redup seperti langit yang menyimpan badai.

"Tiga… dua… satu…"

Teriakan massa mengguncang kubah.

"Mulai"

Arena Kematian pun dimulai.

Ledakan cahaya dan suara raungan logam mengguncang udara saat sinyal pertarungan dimulai. Lima sosok melesat menuju titik tengah arena yang luas, debu dan pasir beterbangan, terangkat oleh hentakan kaki para petarung dan tekanan energi yang saling bertabrakan. Sorak-sorai penonton dari tribun menggelegar, bersatu menjadi lautan suara yang menelan seluruh arena.

"Lihaaat itu! Mereka langsung menyerbu!" teriak seorang pria dari barisan depan, matanya membelalak menyaksikan aksi cepat para petarung.

Namun, perlahan... sesuatu yang ganjil mulai terlihat.

Pertarungan yang awalnya terlihat kacau, berubah menjadi terorganisir. Gerakan mereka mulai sinkron secara aneh, tanpa kata, tanpa isyarat. Darven dengan alat logam di lengannya, Kazzeth yang tubuhnya dipenuhi duri, dan Lorrik si pemilik palu plasma… semua tiba-tiba tampak sepakat dalam diam.

Mereka semua mengalihkan serangan ke satu arah.

WUUUMMM! THRAAANG! ZZZZZZZT!

Tiga arah serangan dilepaskan bersamaan. Ledakan gravitasi, semburan duri logam, dan hantaman palu plasma menyatu dalam satu koordinat, tempat Leena berdiri.

"Mereka semua menyerang gadis itu?!"

"Kenapa mereka bertiga malah bersekutu?!"

"Ini curang! Mereka takut pada dia?!"

Sorak-sorai berubah menjadi teriakan bingung. Bahkan para komentator di menara siaran terdengar tergagap.

"Ini... ini tidak biasa! Tiga petarung paling brutal mengincar satu orang! Apa ini strategi... atau semacam perjanjian diam?!"

BAARRRMM!

Di dalam arena, Leena meluncur ke samping, menghindari ledakan gravitasi yang menciptakan kawah kecil, di tempat ia berdiri tadi. 

DUAARRRKK!!

Tubuhnya berkelebat di udara, melintasi duri yang menembus tanah dan menyelinap di balik tiang baja untuk menghindari hantaman palu.

Namun jelas, mereka tak berhenti. Mereka terus mengejar, tak memberi celah.

Darven menembakkan proyektil magnetik yang meledak di udara.

BZZZZT! 

BLAAAM!

Kazzeth menyemburkan selusin duri melengkung yang mengejar seperti tombak yang dikendalikan naluri.

CHCHCHCHT!

Lorrik menghancurkan lantai logam dengan palu plasmanya, menciptakan medan tak stabil yang memaksa Leena melompat.

CRAAAK! KRAAKK!

"Dasar pengecut!" pekik salah satu penonton. "Tiga melawan satu! Dan dia cuma gadis!"

"Dia yang paling lemah, tentu saja mereka ingin singkirkan dulu. Strategi kotor!" bentak yang lain.

Namun mereka yang cukup tajam menyadari, ini bukan sekadar pengecut. Ini strategi bertarung yang tepat. Dalam pertarungan dimana semua adalah lawan, menyerang yang paling lemah dulu adalah cara tercepat mengurangi jumlah ancaman.

Dan bagi Darven, Kazzeth, dan Lorrik… Leena adalah sosok paling "mudah" untuk disingkirkan dan berikutnya target mereka adalah Khorr.

"Mereka tahu… jika bertarung satu lawan satu, mereka bisa saling habisi. Tapi jika Leena selamat dan mereka yang merasa dirinya kuat saling melemahkan… Leena bisa jadi bahaya di akhir memanfaatkan mereka yang kehabisan tenaga dan terluka."

Dan yang membuat situasi makin mencekam…

Khorr tak ikut membantu Leena.

Ia hanya berdiri diam, menyaksikan dari balik topeng tengkoraknya. Tidak bergeming. Tidak bereaksi.

"Kenapa dia tidak bergerak?" tanya seorang wanita dari tribun belakang. "Apakah dia... membiarkan mereka membunuh Leena lebih dulu?"

Dalam sekejap, Leena harus menghadapi tiga monster sekaligus.

Arena Kematian benar-benar dimulai, dan rencananya jelas, jatuhkan yang lemah dulu… sebelum pertarungan sesungguhnya dimulai.

"Mereka semua mengincar gadis itu... Si Leena... sungguh tidak tahu malu!" sahut seorang wanita dengan tawa sinis.  

"Haha! Gadis secantik itu tak akan bertahan lama dikelilingi monster seperti mereka!"